Apakah anda paham betul apa itu demokrasi?
mungkin itulah pertanyaan yg
mengganjal di benak saya. Yang saya ketahui demokrasi adalah sistem
pemerintahan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Ya, semua berkutat pada
rakyat, semua untuk rakyat sebagai tujuan akhirnya.
Tetapi, apakah anda tahu, bahwa untuk melaksanakan
demokrasi membutuhkan agen pelaksana? Ya, agen atau pelaksana kebijakan atau
penentu segala keputusan. Mari kita pisahkan dulu antara negara, pemerintahan,
dan massa (rakyat). Negara ialah wadah dari segala yang ada di dalamnya,
pemerintahan ialah sistem administrasi yang menjalankan rodanya, sedangkan
rakyat ialah penumpang yang harus dipuaskan oleh pemerintahan.
Sebelum kita, melaju pada pemuasan rakyat yang menjadi
tujuan mulia pemerintah. Adakalanya kita meneliti,bagaimana proses demokrasi
berlangsung dalam hal pemilihan pemerintahan. Tentu, demokrasi melaksanakan one
man one vote atau satu orang satu suara, yang dengannya hak seluruh warga negara
adalah sama.
Hak sama inilah yang menjadi kunci untuk membuka gembok
jabatan di pemerintahan. Dengan mendapatkan kunci yang banyak inilah seseorang
mampu melenggangkan kakinya ke pemerintahan.
Tapi, Apakah anda paham betul, bagaimana seorang rakyat
memberikan hak suaranya?
tentu jawabannya adalah karena saya(rakyat) tahu mana yang akan saya pilih. Dan
yang menjadi pertanyaan saya sekarang, kalau rakyat tidak tahu dengan calon
yang akan dipilih, bagaimana?
ya, memang saya kurang mengetahui dan tidak mau mengetahui
alasan seseorang memilih hal tersebut. Tapi, kalau demokrasi, katakanlah sistem
yang terbuka, berarti ia terbuka untuk segala kemungkinan dong. Kemungkinan
money politik, terbuka dalam hal lobi misalnya, atau terbuka dengan sogokkan.
Ya, terus, apakah demokrasi salah?
oh.. tidak salah juga. Dalam hal keterbukaan semua kan
bisa masuk, bisa lewat pintu depan, bisa juga lewat pintu belakang. Hal
tersebut tak menjadi masalah dalam sistemnya. Yang menjadi persoalan adalah,
kurang terpahaminya dampak buruk yang di alami oleh demokrasi kalau demokrasi
diraih dengan cara yang kurang pas.
Yang, perlu dipahami adalah masyarakat itu sendiri.
masyarakat yang harus dicerdaskan, di beri wawasan tentang pentingnya demokrasi
secara jujur. Dengan kejujuran inilah semua akan bermuaran kepada kebaikan.
Kalau kita jujur menggunakan hak pilih sesuai hati nurani pastilah kita akan
menemui pemerintahan yang jujur pula.
*****
Eiiittss….eiiittss.. Tunggu dulu,
Apakah
betul kalau masyarakat memilih dengan jujur pasti menimbulkan dampak yang jujur
pula ke atas (pemerintahan)? Saya kira penilaian seperti itu masih terlalu dini
untuk disimpulkan menjadi penilaian. Kita harus lihat dulu, penyebab apa yang
membuat hal tersebut terjadi.
Saya kira, masyarakat menilai setiap
ada pesta demokrasi selalu yang dieluh-eluhkan ialah kata pesta bukan
disertakan demokrasi di tataran pemahaman masyarakat. Akibatnya, kata pesta
selalu identik dengan hal ihwal yang menyenangkan. Misalnya bantuan gratis,
sembako gratis, bahkan uang gratis. Dengang menjamurnya kata pesta yang
mempunyai tendensi ganda inilah yang membuat masyarakat pasif terhadap
demokrasi. Mereka kurang dalam menerjemahkan demokrasi sebagai sistem yang
bekerja di negara ini.
Kekurangan kepahaman inilah yang
membuat para koruptor dengan leluasan memainkan perannya dalam menggerogoti
uang rakyat. Uang yang seharusnya ialah hak rakyat diselewengkan ke saku mereka
sendiri.
Yang menjadi PR besar bangsa ini
ialah, menumbuhkan kesadaran diri, kejujuran diri, dan tidak mementingkan diri
sendiri.
Dan perlu dicatat lagi, yang menjadi
sentral penyelamat bangsa adalah pengawasan masyarakat terhadap penggunaan
anggaran negara. Masyarakat harus ikut andil dalam penyelenggaraan tata kelola
negara, dalam hal ini sebagai pengawas atau kontroling terhadap pemerintahan.
Dengan begitu bangsa ini dapat diselamatkan dari jurang koruptor.
0 Comments